Liputan6.com, Sigi -
Kisah Nolin itu diakui para guru di sekolahnya. Wakasek SMPN 16 Sigi, Bungaria Rapa mengakui pembatasan interaksi guru dan murid selama masa pandemi Covid-19 membuat mereka tidak bisa mengukur pasti kemajuan para peserta didiknya walau dengan memberikan soal di rumah.
"Jujur saja itu masih tidak efektif dengan kondisi di sini yang serba terbatas. Waktu untuk menjelaskan pelajaran ke mereka tidak banyak karena kami harus ke rumah-rumah lain," Bungaria menuturkan di sela aktivitasnya mengantarkan soal ke rumah siswa, Rabu (22/7/2020).
Kendati begitu, Bungaria menilai membagikan soal tetap harus dilakukannya agar siswanya tetap punya bahan belajar.
"Kami memaklumi saja kalau ada soal yang tidak terisi. Makanya penilaian yang kami berikan hanya 'baik dan cukup'. Kami tidak bisa menuntut lebih dengan cara begini," katanya.
Selain Nolin, berdasarkan data SMPN 16 Sigi, ada 300-an siswa-siswi yang bernasib sama. Mereka tersebar di 4 desa terpencil dengan medan sulit. Tercatat lokasi siswa terjauh dari sekolah yang ada di desa Uwenuni, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi itu ada di Dusun Dongi-Dongi, Kabupaten Poso yang berjarak sekitar 25 km dari sekolah.













0 komentar:
Posting Komentar