Pengertian Model Pembelajaran
Setidaknya ada empat istilah yang
sering digunakan di dalam pembelajaran,
yaitu model, pendekatan, metode dan strategi. Masing masing istilah memiliki
perbedaan yang esensial dan harus dipahami oleh guru agar proses pembelajaran
bisa mencapai hasil yang maksimal.
Model adalah kumpulan sejumlah
komponen atau elemen yang membentuk satu sistem atau konstruksi tertentu.
Hakekat model terletak pada jumlah atau jenis komponen atau elemen yang
digunakan. Perbedaan model satu dengan lainnya dilihat dari perbedaan komponen
atau elemen yang ada. Misalnya model baju seragam sekolah berbeda dengan model
baju seragam pegawai kantor, karena komponen yang ada dibaju seragam sekolah
berbeda dengan komponen baju seragam pegawai kantor. Model baju pengantin juga
berbeda dengan model baju untuk menghadiri pesta. Lagi lagi komponen dan elemen
antara baju yang dikenakan pengantin berbeda dengan baju yang dipakai oleh
peserta atau tamu undangan dalam pesta pernikahan.
Bentuk atau nama bangunan juga
berbeda antara bangunan perumahan atau
pemukinan dengan bangunan gedung sekolah,
karena komponen yang harus ada antara bangunan rumah tinggal dengan gedung
sekolah berbeda. Kalau rumah tinggal wajib ada ruang tamu dan ruang tidur,
tetapi untuk gedung sekolah tidak ada ruang tamu dan ruang tidur. Bangunan
sekolah yang harus ada adalah ruang kelas, ruang guru, kepala sekolah, ruang
perpustakaan, ruang kesehatan dan kantin. Ruang ruang tersebut tidak harus ada
untuk bangunan rumah tinggal. Di dalam
Pembinaan khususnya pembinaan kepada para pegawai juga dikenal berbagai macam model, diantaranya.
Pertama, Model pembinaan Andrew
E.Sikula[1]. Model ini didasarkan
kepada lima komponen yang terdiri dari
tujuan sumber daya manusia, perencanaan organisasi, pengauditan sumber
daya manusia, peramalan sumber daya manusia, dan pelaksanaan program sumber
daya manusia.
Kedua, Model pembinaan Sosio-Ekonomik Battele[2], menurut George S Odine, yaitu
model pembinaan yang ditekankan kepada kekuatan lapangan kerja. Model ini lebih
efektif untuk membina pegawai dikaitkan dengan lapangan pekerjaan, situasi
geografis dan sosial ekonomi masyarakat.
Ketiga.Model pembinaan SDM dari R. Wayne Mondy dan Robert M. Noe[3].
Model ini menggunakan perencanaan strategik yang memperhatikan pengaruh faktor
lingkungan internal dan eksternal organisasi. Pembinaan SDM pada model ini
sangat memperhitungkan persyaratan SDM,
membandingkan tuntutan persyaratan dengan ketersediaan SDM (permintaan SDM,
kelebihan SDM dan kekurangan SDM), dan perhitungan ketersediaan SDM dalam perusahaan.
Berbagai macam model pembelajaran
harus dipahami oleh guru dan diaplikasikan ke dalam proses pembelajaran di
kelas. Artinya guru memiliki kewenangan memilih dan menentukan berbagai macam
model pembelajaran yang dianggap cocok atau sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang dirumuskan, karena ciri ciri model pembelajaran setidaknya menyangkut
beberapa hal yaitu :
Sesuai dengan rumusan tujuan
pembelajaran[4]
Rasional dan ilmiah[5]
Berorientasi kepada peserta
didik[6]
Realistis[7]
Kondusif[8].
Ciri ciri model pembelajaran
tersebut, melahirkan berbagai macam model pembelajaran yang sering digunakan
para guru seperti, Model Pembelajaran Inovatif, Model Pembelajaran Aktif, Model
Pembelajaran Berbasis Problem, Model Pembelajaran Investigatif dan masih banyak
model model lainnya.
Hakekat pembelajaran adalah
memberikan atau menumbuhkan motivasi peserta didik agar memiliki keinginan kuat
untuk mengetahui, memahami dan mengembangkan pelajaran. Keberhasilan seseorang meraih cita cita
sangat ditentukan oleh sejauhmana mampu mengelola dan menumbuhkan motivasi
dalam dirinya. Penentuan model pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk
menumbuhkan semangat bagi siswa dalam mempelajari materi pelajaran. Sehingga
secara umum model dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu Model secara formal
(fisik), dan model substansial (non fisik).
Model secara fisik adalah
serangkaian langkah langkah atau tahapan yang harus dilalui oleh guru dan
peserta didik dalam melakukan pembelajaran. Sedangkan model non fisik lebih merujuk
kepada kesiapan secara mental/kepribadian untuk melakukan model yang telah
rancang. Model berbasis problem misalnya, Guru dan siswa selain mengetahui dan
mampu melaksanakan tahapan yang ada di dalam model berbasis problem juga harus
memiliki kesiapan mental untuk mensukseskan model tersebut. Tujuan utamanya,
melaksanakan model adalah agar peserta
didik memiliki semangat dan mudah memahami materi yang disampaikan dari Guru.
Kualitas pemahaman terhadap materi ditentukan oleh faktor fisik dan non fisik (psikologis).
Oleh sebab itu pembelajaran harus selalu memperhatikan dua aspek yang selalu
saling berkaitan.
Pengertian Pendekatan
Pembelajaran
Pendekatan adalah sekumpulan
asumsi atau teori yang dijadikan landasan untuk melaksanakan suatu pekerjaan
atau tugas tertentu atau untuk mengetahui tingkat keberhasilan pekerjaan
tertentu. Pendekatan masih bersifat asumsi atau perkiraan yang harus diikuti
dengan langkah langkah tehnis (metode) yang sesuai dengan asumsi yang
ditentukan.
Pendekatan dalam memahami atau
mendakwahkan agama Islam setidakanya dapat dilakukan dengan pendekatan
filosofis, pendekatan rasional,
pendekatan fungsional, dan pendekatan pembisaaan.
Pendekatan filosofis[9] adalah
beberapa asumsi atau pemikiran yang menyatakan bahwa Islam akan mudah di pahami
dan dilaksanakan oleh manusia jika dijelaskan dengan cara memberikan makna
makna filosofi dari teks atau ayat. Pendekatan ini memerlukan kajian secara
mendalam dari masing masing teks atau
ayat. Ajaran Islam diturunkan kepada umatnya pasti dilatar belakangi oleh
realitas atau peristiwa sejarah yang harus diungkap dan dijelaskan secara
optimal oleh umat Islam agar umat Islam benar benar memiliki cara fikir dan pemahaman yang tepat sesuai
dengan konteks zamannya. Karena setiap ayat al qur’an turun kepada umat Islam
pasti ada sebab sebab turunnya (asbabun nuzul) yang lebih banyak memberikan
informasi tentang situasi dan kondisi masyarakat saat turunnya ayat.
Pendekatan rasional adalah
sekumpulan asumsi atau pemikiran bahwa Islam akan mudah di pahami oleh manausia
jika dijelaskan dengan cara cara yang
dapat diterima oleh logika. Ajaran Islam dirasionalkan sehingga manusia benar
benar mampu dan sanggup untuk menerima dalam artian menyakini dan sekaligus mengakui
bahwa Islam itu agama yang baik dan layak di anut. Ajaran agama setidakanya
memiliki dua dimensi yaitu dimensi ta’aquli (rasionalitas) dan dimensi ta’abudi
(keyakinan). Tidak semua agama harus didekati menggunakan rasionalitas, tidak semua ajaran agama juga harus di dekati
menggunakan keyakinan atau keimanan. Mayoritas ajaran agama memerlukan
penjelasan secara rasionalitas[10].
Pendekatan Fungsional adalah
sekumpulan asumsi atau pemikiran yang meyakini bahwa Islam akan mudah dipahami
jika dijelaskan fungsi dan manfaatnya ajaran Islam dalam kehidupan manusia.
Setiap ajaran Islam pasti memiliki makna atau manfaat yang besar bagi kehidupan
manusia.
Pendekatan Pembisaaan adalah
sekumpulan asumsi atau pemikiran yang mengakui atau meyakini bahwa ajaran Islam
akan mudah dirasakan dan dipahami jika dilakukan secara rutin. pendekatan
pembisaaan itu dilakukan dengan cara melatih secara rutin untuk melaksanakan
ajaran ajaran agama. Seperti melatih atau membiasakan hidup bersih, melatih
atau membisaakan menjalankan sholat lima waktu sehari semalam, melatih dan
membisaakan menjalankan ibadah puasa ramadhan.
Pendekatan yang dapat dilakukan
dalam pembelajaran adalah pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA),
pendekatan ketrampilan proses, pendekatan kompetensi dan pendekatan
Pengembangan Pembelajaran Sistem Instruksional (PPSI).
Berbagai macam pendekatan ini
hanya memuat tentang beberapa asumsi atau persepsi tentang prediksi
keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pendekatan CBSA didasarkan
asumsi atau persepsi bahwa keberhasilan pembelajaran akan mudah tercapai jika
guru memberikan kesempatan atau kebebasan kepada siswa untuk aktif menemukan
kebenaran atau teori. kebebasan itu dapat diberikan melalui berbagai macam
metode yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Pendekatan ketrampilan proses
adalah pembelajaran yang didasarkan asumsi bahwa keberhasilan siswa dalam
pembelajaran ditentukan oleh proses yang dilakukan siswa. Misalnya kemampuan
atau penguasaan materi yang dimiliki oleh peserta didik tidak dilihat dari nilai
(angka) yang raih setelah ujian, melainkan dilihat dari proses bagaimana
peserta didik melakukan pembelajaran sehari hari. Semua proses pembelajaran
yang dilakukan oleh siswa harus benar benar sesuai norma dan aturan yang
berlaku. Proses pembelajaran harus benar benar jujur, transparan, adil serta
tidak diskriminatif. Konsekuensinya Guru harus memberikan kebebasan kepada
siswa untuk melakukan proses menemukan
kebenaran atau teori.
Pendekatan kompetensi[11] adalah
proses pembelajaran yang didasarkan asumsi atau persepsi bahwa keberhasilan
peserta didik akan dapat diperoleh jika guru mampu merumuskan dan mencapai
kreteria atau indikator kompetensi yang dimiliki oleh siswa setelah proses
pembelajaran. Pencapaian kompetensi merupakan target utama dalam meraih
keberhasilan proses pembelajaran.
Pendekatan PPSI[12] adalah proses
pembelajaran yang didasarkan asumsi atau persepsi bahwa keberhasilan
pembelajaran akan mencapai hasil yang maksimal jika dilakukan dengan pendekatan
sistem, yaitu cara fikir yang mengatakan bahwa pembelajaran itu ditentukan oleh
berbagai faktor yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Pembelajaran
tidak hanya ditentukan oleh Guru saja, dan juga tidak bisa ditentukan oleh
kualitas motivasi peserta didik. Semua elemen memiliki kontribusi besar dalam
menentukan keberhasilan pembelajaran.
Masih banyak jenis pendekatan pembelajaran lainnya,
intinya Guru harus memiliki kemampuan untuk memahami dan menguasai sekaligus
mempraktikan pendekatan dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pendekatan
ditentukan juga oleh kesesuaian dengan metode yang digunakan. Sebaik apapun
pendekatan jika tidak diikuti dengan metode yang tepat maka akan sia sia.
Pendekatan yang dapat dikatakan
cukup inovatif dan merupakan rangkuman dari berbagai pendekatan di atas adalah
bernama pendekatan CTL ( Contexstual Teaching and Learning) yang bisaa di sebut
pembelajaran kontekstual. Pendekatan CTL merupakan pendekatan pembelajaran yang
mengedepankan makna, bermakna dan dibermaknakan artinya pembelajaran benar
benar sesuai apa yang dialami peserta didik baik secara fisik maupun
psikologis. Pembelajaran yang menjamin kenyamanan dan ketenangan peserta didik
sehingga peserta didik memiliki kemampuan kreativitas dan inovatif dalam
megembangkan ilmu pengetaahuan[13].
Pengertian Metode Pembelajaran
Keberhasilan pembelajaran, selain
ditentukan oleh model dan pendekatan juga ditentukan oleh metode yang digunakan
atau dipilih guru. Guru yang baik adalah yang mampu memilih jenis metode yang
sesuai, dalam artian sesuai dengan materi dan kemampuan peserta didik. Metode
adalah cara atau langkah langkah yang digunakan untuk menuju suatu tujuan yang
sudah ditentukan. Metode atau cara bersifat tehnis atau praktis dan merupakan
penjabaran dari pendekatan. Metode pembelajaran berisi tahapan atau langkah
langkah tehnis /praktis yang dilakukan oleh guru dan peserta didik. Metode
pembelajaran yang baik adalah yang memeiliki ciri ciri sebagai berikut :
Intruksionistik yaitu sesuai
dengan tujuan yang ditentukan
Substantif yaitu sesuai dengan
materi yang ditentukan
Praktis yaitu didukung dengan
sarana dan prasarana yang memadahi
Aplikatif yaitu didukung dengan
kemampuan dan ketrampilan guru dan peserta didik.
Berdasarkan ciri ciri tersebut,
dapat dikatakan bahwa tidak ada metode yang baik dan juga tidak ada metode yang
buruk. Semua metode baik dan semua metode buruk. Baik dan buruknya metode
ditentukan dengan kesesuaian dengan tujuan, materi, sarana dan kemampuan guru
serta peserta didik. Konsekuensinya, kunci sukses guru dalam melakukan pembelajaran
ditentukan sejauhmana mampu memilih metode yang tepat dalam pembelajaran.
Banyak pilihan metode yang dapat
digunakan dalam pembelajaran, seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab,
uswah (contoh), demontrasi, karya wisata, pembisaaan (driil), bermain peran
(role playing) dan masih banyak metode lain yang bisa dioptimalkan untuk meraih
tujuan yang telah ditentukan. Konsekuensi pertama dan utama adalah metode harus
dikuti dengan kualitas elemen lainnya. Guru tidak boleh hanya mengandalkan satu
metode saja, tetapi harus menggunakan metode yang bervariasi disesuaikan dengan
jenis materi dan tujuan yang dirumuskan. Metode akan dapat berjalan efektif
jika diikuti dengan beberapa prinsip prinsip
dalam pembelajaran seperti[14] :
Prinsip aktivitas yaitu metode
yang dilakukan harus memberikan kesempatan peserta didik untuk melakukan
aktivitas atau mengalami pengalaman.
Prinsip motivasi yaitu metode
yang dilakukan harus harus benar benar mampu menumbuhkan motivasi bagi peserta
didik.
Prinsip individualitas yaitu
metode yang dilakukan harus benar benar memperhatikan perbedaan individu yang
dimiliki peserta didik.
Prinsip lingkungan yaitu metode
yang dilakukan harus benar benar sesuai dengan dinamika ilmu pengetahuan,
teknologi dan budaya yang ada di tengah tengah masyarakat.
Prinsip konsentrasi yaitu metode
yang dilakukan harus mampu mengkondisikan konsentrasi peserta didik.
Prinsip kebebasan yaitu metode
yang digunakan mampu memberikan kesempatan peserta didik untuk mengekpresikan
pengetahuan dan potensi yang dimiliki.
Prinsip peragaan yaitu metode
yang dilakukan benar benar mampu memberi inspirasi peserta didik untuk
mempraktikan apa yang diketahui dan dipahami.
Prinsip kerjasama dan persaingan
yaitu metode yang digunakan harus benara benar mempu menumbuhkan semangat untuk
berkompetensi secara sehat degan sesama teman sejawat.
Islam memberikan batasan cara
cara melakukan penjelasan atau dakwah
yang harus dilakukan dengan tiga cara yaitu secara hikmah, nasehat yang baik
dan berdiskusi yang tetap menjunjung tinggi kedamaian, persatuan dan kesatuan.
Hal ini didasarkan agama Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamiin yaitu
agama yang memiliki visi dan misi memberi rasa aman, bahagia, sejahtera secara
lahir dan batin kepada semua manusia tanpa melihat asal usul agama, suku, warna
kulit dan golongan[15].
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
secara substantif mengajarkan nilai nilai ajaran agama Islam harus mengikuti
etika dan pesan yang ada di dalam agama (Al-qur’an dan Hadis) dengan pemahaman
yang bijaksana agar melahirkan cara fikir dan sikap serta perilaku peserta
didik yang mampu menyelesaikaan dan menghadapi problematika dalam kehidupan sosial.
Pembelajaran PAI harus mampu
melaksanakan metode tranformatif[16]
yaitu metode yang dilaksanakan harus mampu menggeser atau merubah dalam tiga
hal yaitu Pertama, pergeseran dari teks ke konteks. Artinya peserta didik tidak
cukup hanya mengetahui dan memahami nilai nilai atau pesan ajaran Islam secara tekstualis melainkan harus lebih dari
itu yaitu cara fikir kontekstual dalam artian menyesuaikan dengan dinamika
masyarakat. Kedua, pergeseran dari teori ke aksi. Artinya peserta didik tidak
cukup hanya menghafal teori saja, tetapi harus mampu melaksanakan apa yang
diketahui dan dihafal kedalam realitas kehidupan sosialnya. Ketiga. pergeseran
dari kualitas individual menuju kualitas sosial. Artinya peserta didik tidak
cukup baik secara individualnya saja, tetapi juga harus berkualitas secara
sosial.
Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah
(MI)
Pembelajaran secara umum
diartikan proses interaksi antara guru dengan peserta didik yang dilakukan
secara terencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Di dalam
pembelajaran terdapat aktivitas belajar dan mengajar. Belajar adalah aktivitas
yang ditekankan kepada peserta didik, sedangkan mengajar adalah lebih
menekankan kepada aktivitas guru. Menurut
Howard L Kingsley yang dikutip oleh Saefudin[17] menjelaskan Belajar
adalah is the process by which behavior
(in the border sense) is originated or changed through practice or training.
Menurut Undang Undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 20 dijelaskan bahwa
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada satuan lingkungan belajar. Menurut Umar Hamalik yang dikutip oleh
Saefudin (2017: 13) dalam buku Belajar dan Pembelajaran mendefinisikan pembelajaran adalah kombinasi
yang tersusun antara unsur manusiawi, material, fasilitas dan rencana yang
saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan tertentu.
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni
(2007: 13) yang mengutip dari Kamus
Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar diartikan “ berusaha
memperoleh kepandaian atau ilmu “. Menurut Hilgar dan Bower belajar (to learn)
memiliki arti (1) to gain knowledge, comprehention, or mastery of trough
experience or study (2) to fix in the mind or memory : memorize (3) to acquire
trough experience (4) to become in forme of to find out. Menurut definisi tersebut dapat dikatakan
bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui
pengalaman, mengingat, menguasai dan mendapatkan informasi[18].
Hakekat belajar adalah adanya
keinginan untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Perubahan menjadi kata
kunci belajar. Setiap orang yang melakukan perubahan berarti telah melakukan
proses belajar. Perubahan yang dilakukan harus dilakukan secara sadar,
terencana dan sistematis. Jika perubahan tidak disadari dan tidak direncana secara
matang maka tidak bisa dikatakan hasil belajar. Perubahan yang dilakukan akibat
dari proses sulap atau hipnotis tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari
hasil belajar. Perubahan bisa bersifat fisik dan non fisik. Tetapi dalam
konteks belajar dan pendidikan, perubahan lebih ditekankan kepada aspek non
fisik yaitu yang berkaitan dengan intelektual, sikap kepribadian dan perilaku
atau ketrampilan mekanik.
Dalam konteks belajar dikenal
dengan istilah taksonomi pembelajaran, dimana perubahan yang diperoleh dari
hasil belajar setidaknya menyangkut tiga hal yaitu perubahan dalama aspek
intelektual (kognitif), perubahan yang berkaitan dengan aspek sikap kepribadian
(affektif) dan perubahan yang berkaitan dengan aspek ketrampilan mekanik atau
otot (psikomotorik). Ciri utama belajar terletak pada kesediaan untuk melakukan
perubahan yang bersifat positif atau lebih baik dari sebelumnya. Perubahan dari
positif menjadi negatif , dari ingat menjadi tidak ingat, dari yang asalnya
mengetahui dan memahami kemudian menjadi tidak mengetahui dan tidak memahami
persoalan tidak menjadi indikator hasil
belajar. Mengapa demikian?, belajar pada
hakekatnya dimaksudkan untuk melahirkan kebaikan dan kemanfaatan, oleh sebab
itu hasil belajar harus selalu berkaitan dengan hal hal yang positif dan bermanfaat baik untuk dirinya
sendiri maupun untuk orang lain.
Lebih lanjut Baharuddin & Esa
Nur Wahyu (2007: 15-16) menjelaskan bahwa
Ciri ciri belajar adalah;
Ditandai dengan perubahan tingkah
laku yaitu perubahan yang ada di dalam diri peserta didik (si belajar) harus
bersifat positif baik yang menyangkut aspek kognitif[19], affektif[20] dan
psikomotorik[21].
Perubahan relatif permanen
(tetap), artinya perubahan yang dimiliki oleh peserta didik bertahan lama dan
cenderung menunjukkan perkembangan kearah yang lebih baik.
Perubahan tingkah laku tidak
selalu dapat diamati secara cepat, tetapi bisa bersifat potensi. Artinya
perubahan yang diperoleh dari hasil belajar tidak selalu berupa hasil nyata,
tetapi bisa berbentuk potensi atau semangat untuk berkembang.
Perubahan tingkah laku merupakan
hasil dari latihan. Perubahan yang dimiliki peserta didik bukan hasil intuisi
melainkan dilalui dengan proses yang rasional
Perubahan tingkah laku tersebut
dapat memberikan penguatan. Artinya perubahan yang dimiliki oleh peserta didik
memiliki pengaruh yang baik dalam sikap kepribadian dan perilaku dalam
kehidupan sehari hari.
Dapat dikatakan pembelajaran
memiliki karakter kondisional yaitu proses atau cara serta materi yang
diajarkan harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis peserta
didik. Realitas pendidikan di Indonesia bahwa pendidikan dan pembelajaraan
dibagi ke dalam jenjang pendidikan dasar,
menengah dan pendidikan tinggi. Dengan demikian, proses pembelajaran
juga harus memperhatikan karakteristik masing masing jenjang pendiddikan dan
pembelajaran.
Pembelajaran di Madrasah
Ibtidaiyah (MI) berbeda dengan pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan Madrasah Aliyah (MA) serta di Pendidikan
Tinggi, karena secara psikologis dan target kelembagaan berbeda.
Pendidikan dasar merupakan
jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar
bentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang
sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS)
atau bentuk lain yang sederajat[22].
Secara eksplisit Madrasah
Ibtidaiyah (MI) adalah bentuk pendidikan dasar yang tujuan utamnya adalah
melandasi agar mampu meneruskan kejenjang selanjutnya. yaitu melanjutkan ke
Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan ke Madrasah
Aliyah (MA). Misi utama pendidikan MI adalah melandasi atau membekali peserta
didik agar memiliki kesiapan secara lahir dan batin untuk melanjutkan
pendidikan selanjutnya. Membangun kesiapan secara lahir (fisik) dan batin
(psikis) para peserta didik menjadi pilihan utama yang harus diwujudkan melalui
proses pembelajaran dan kepemimpinan.
Dalyono (1997: 165-167)
menjelaskan kesiapan atau dalam bahasa asing disebut readiness adalah kesediaan
seseorang untuk melakukan sesuatu. Readiness juga bisa diartikan segenap sifat
atau kekuatan yang secara optimal sehingga membuat seseorang dapat bereaksi
dengan cara tertentu. Kesiapan peserta didik bisa muncul disebabkan oleh
situasi dan kondisi yang ada di dalam dirinya (internal) maupun situasi dan
kondisi yang ada di luar dirinya (eksternal). Faktor pembentukan kesiapan
peserta didik yang muncul dari dalam dirinya sendiri misalnya;
Pertama, adanya keberanian untuk
mengatakan atau menyampaikan sesuatu. Artinya peserta didik memiliki keberanian
secara optimal untuk mengungkapkan apa yang dirasakan. Guru harus memiliki
kemampuan dan ketrampilan untuk menumbuhkan keberanian peserta didik untuk
mengemukakan apa yang dirasakan secara benar dan jujur.
Kedua, adanya keberanian untuk
berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya secara optimal. Peserta yang memiliki
kesiapan untuk belajar secara optimal dapat dilihat dari keberanian untuk
bersosialisasi atau bergaul dengan temannya secara maksimal. Tidak ada perasaan
minder atau khawatir bahkan takut dengan siapapun, karena mereka meyakini apa
yang dimiliki dalam perasaanya dianggap sesuatu yang benar dan mulia. Perasaan
benar dan mulia yang dimiliki akan mengalahkan rasa takut/khawatir sehingga
memiliki keberanian dalam melakukan aktivitasnya.
Ketiga, adanya perasaan atau situasi
dan kondisi yang aman, nyaman, tidak ada tekanan psikologis dalam diri siswa.
Kesiapan untuk belajar peserta didik akan mudah muncul jika dalam hati atau
psikologinya benar benar aman, nyaman. Guru harus benar benar memiliki
pengetahuan dan ketrampilan untuk menciptakan rasa aman secara psikologis agar
kesiapan dan kematangan peserta didik untuk belajar benar benar tercapai.
Keempat, dari aspek guru, harus
mampu menampilkan profil atau sosok yang benar benar dapat dipercaya dan
menjadi idola bagi peserta didik. Guru yang dianggap sosok yang memiliki
kemampuan segala galanya akan menjadi inspirasi dan panutan bagi peserta didik.
Oleh sebab itu guru dalam membangun atau menumbuhkan kesiapan belajar harus
diikuti dengan penampilan guru secara optimal baik dalam hal kemampuan atau
wawasan keilmuan, sikap kepribadian maupun ketrampilan. Kesiapan peserta didik
akan mudah dicapai jika Guru benar benar mampu menjelma sosok yang idel menurut
pandangan peserta didik[23]. Dengan kata lain kesiapan akan mudah diwujudkan
jika peserta didik memiliki (a) motivasi besar dalam melakukan pembelajaran.
Artinya peserta didik benar benar memiliki keinginan kuat untuk belajar dan
melanjutkan ke jenjang berikutnya. (b) memiliki sikap atau kecenderungan
terhadap sesuatu yang positif. Peserta didik yang tidak memiliki kecenderungan
positif kepada sesuatu maka akan mudah
hilang kesiapan untuk belajar (c) kebisaaan melakukan hal hal yang
positif akan mempercepat tumbuhnya kesiapan belajar secara optimal (d) konsep
diri yang jelas dan tegas akan semakin cepat menumbuhkan kesiapan peserta didik
dalam melakukan proses belajar.
Pembelajaran di MI dapat
dikatakan pembelajaran yang menekankan pada pembentukan kesiapan peserta didik
baik kesiapan fisik maupun mental. Apa yang dilakukan Guru pada pembelajaran
anak anak MI diarahkan dalam rangka pembentukan dan penyiapan kondisi
psikologis. Hal ini menjadi penting, karena kondisi psikologis atau mental
merupakan faktor menentu keberhasilan seseorang dalam melaksanakan suatu
tujuan.
Anak anak pada usia 7-12 tahun
adalah masa masa pertumbuhan baik fisik maupun psikis yang harus diberi
stimulus secara tepat oleh Guru. Pada usia 7-12 dapat dikatakan usia yang labil
dan dinamais. Labil adalah sangat rentan dan mudah dipengaruhi ke arah hal hal
yang negatif ataupun positif. Dinamis adalah sangat mudah berubah atau
berkembang. Konsekuensinya, Guru di MI harus benar benar mampu memberikan
stimulus yang tepat dan proporsional kepada peserta didik agar perkembangan
psikologisnya sesuai dengan harapan yang ditentukan.
Pembelajaran Doktriner
Pembelajaran doktrin didasarkan
pada jenis pembelajaran di MI yang menekankan pada pemberian kesiapan mental
kepribadian dan wawasan pengetahuan. Pembelajaran di MI tidak dirancang mampu
menghadapi lapangan pekerjaan, bukan juga dimaksudkan untuk menyiapkan
ketrampilan tehnis bagi peserta didik. Keberhasilan pembelajaran di MI dilihat
sejauhmana Guru mampu memberikan kesiapan mental dan wawasan pengetahuan
sehingga peserta didik benar benar memiliki semangat kuat untuk melanjutkan ke
jenjang berikutnya yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTS) atau SMP. Pembelajaran doktrin merupakan suatu pilihan yang tepat
pada jenjang pendidikan di MI, karena secara substansi doktrin adalah proses
penanaman pengetahuan dan keyakinan yang kuat kepada seseorang sehingga
seseorang tersebut bisa berubah dalam aspek pengetahuan dan sikap kepribadian.
Doktrin disamakan dengan dogma,
terjemahana dari bahasa Yunani yang artinya apapun yang nampaknya baik[24].
Doktrin (dogma) dapat dikatakan upaya untuk merealisasikan sesuatu agar selalu
bisa melaksanakan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam pembelajaran doktrin
(dogma) menekankan pada proses untuk menanamkan suatu pemahaan atau cara
pandang terhadap sesuatu yang didasarkan prasangka baik (chusnu al dlaan).
Pembelajaran doktrin (dogma) menanamkan kesiapan yang kuat untuk menjalankan
apa yang diketahui dan diyakini secara optimal.
Pembelajaran doktrin (dogma) memiliki karakter umum bahwa apa yang
diketahui dan diyakini selalu dianggap benar dan tidak perlu memerlukan adanya
pembuktian (bukti empiris). Seseorang yang berhasil didoktrin akan memiliki
pengetahuan, keyakinan yang utuh atau total sehingga akan mengikuti semua
perintahn yang datang kepada dirinya.
Doktrin juga dimaksudkan untuk
menenamkan ideologi kepada orang lain sehingga memiliki komitmen dan tekat yang
kuat untuk melakukan sesuatu kebaikan. Proses kelahiran sebuah ideologi bagi
seseorang disebabkan oleh tiga[25] hal:
Pertama, ideologi lahir karena
mendapat inspirasi dari orang lain yang dianggap idola atau dianggap memiliki
kemampuan lebih dibanding lainnya. Anggapan yang luar biasa dari orang lain
melahirkan semangat untuk mengikuti semua apa yang dikatakan sehingga lama
kelamaan menjadi landasan atau pedoman untuk melakukan suatu perbuatan. Guru MI
harus mampu melahirkan anggapan luar bisa dari peserta didik, segala ucapan dan
keinginanya akan dianut dan diikuti oleh peserta didik. Disinilah urgensi
pentingnya guru MI melakukan pembelajaran doktriner kepada peserta didiknya.
Kedua, Ideologi lahir disebabkan
karena adanya pola pikir atau kesepakatan secara umum (banyak orang) ditengah
tengah amsyarakat. Kesepakatan masyarakat
secara evolutif akan mampu menjadi ukuran atau norma yang harus ditaati
dan dipatuhi oleh semua orang. Sikap dan perilaku manusia diikat atau diatur
oleh kesepakatan yang telah dilakukan sebuah komunitas. Relevansi dengan
pembelajaran doktriner di MI terletak bahwa pembelajaran doktriner di MI
diharapkan mampu mempengaruhi kesepakatan di tengah tengah masyarakat.
Konsekuensinya materi doktrin yang diberikan kepada peserta didik benar benar
dapat dipraktikan di tengah tengah masyarakat sehingga masyarakat makin
terpengaruh dengan materi doktrin yang diberikan guru MI kepada peserta
didiknya.
Ketiga, Ideologi lahir disebabkan
karena adanya keyakinan tertentu yang sangat kuat. Doktriner salah satu
tujuannya adalah memberikan atau menanamkan keyakinan yang kuat kepada peserta
didik akan memiliki sikap dan perilaku yang ideal sesuai dengan tuntutan agama
Islam. Keyakinan yang ditanamkan kepada peserta didik di MI adalah keyakinan
yang kuat dan positif tentang keberadaan adanya Tuhan Sang pencipta alam
semesta, sehingga disetiap perilakunya peserta didik merasa diketahui oleh
Allah swt. Dengan kiata lain doktriner yang dilakukan kepada peserta didik di
MI tidak lain adalah untuk memperkuat keyakinan keimanan kepada Allah swt.
Doktirn kepada peserta didik di MI bukan dimaksudkan
untuk melahirkan atau mencetak peserta didik yang berfikir dan berperilaku
tanpa pertimbangan. Doktrin pada pembelajaran di MI dimaksudkan untuk membangun
dan membimbing konsep atau pemahaman peserta didik terhadap kekuasaan Allah
SWT. Lulusan dari MI harus memiliki kekuatan dan keimanan atau kepercayaan
adanya Allah SWT sebagai Sang Pencipta alam semesta dan tidak akan menduakan
dengan apapun. Doktrin dalam pembelajaran MI mengarah kepada kualitas keimanan
kepada Allah swt.
Ada perbedaan antara doktrin
orang orang komunis dengan doktrin yang dilakukan di MI. Doktrin kelompok
komunis tujuan utamnya adalah menjauhkan kepercayaan dari Tuhan. Kelompok
komunis merasa sukses jika masyarakat memiliki keyakinan tidak ada Tuhan. Hidup
ini adalah kehidupan pertama dan terakhir. Rasionalitas manusia menjadi kunci
utama kesuksesan dalam kehidupan. Bahkan bagi orang komunis, Tuhan dan agama
justru menganggu keberhasilan manusia. Doktrin komunis[26] adalah proses
menanamkan keyakinan secara optimal agar setiap manusia tidak percaya adanya
Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Doktrin di lembaga pendidikan MI tujuan utamnya adalah mendekatkan
(taqarrub) kepada Allah swt. Doktrin di MI mengajarkan keyakinan secara optimal
bahwa penentu segala sesuatu (causa prima) adalah Tuhan semesta alam, sekuat
apapun manusia masih jauh di bawah kekuasaan Tuhan. Oleh sebab itu manusia
memiliki kekuatan yang sangat terbatas. Tugas manusia adalah berusaha secara
optimal, sedangkan keberhasilan ditentukan oleh “tangan” Tuhan. Doktrin seperti
ini bisa melahirkan sikap dan kepribadian yang tawadlu’, sabar, rendah hati,
sopan santun dalam menjalani realitas kehidupan sosialnya.
Pembelajaran dengan doktrin bagi
lembaga pendidikan MI sangat tepat dan relevan, hal ini bisa dilihat dari
misi besar yang dimiliki oleh MI, yaitu
:
Pertama, Misi keagamaan, yaitu
semua komponen pendidikan di MI dan pendidikan Islam lainnya, memiliki tugas
dan tanggung jawab untuk mensosialisasikan dan melaksanakan serta mendidik
untuk memahami agama Islam secara utuh. Misi dakwah Islam selalu melekat dalam
diri pelaksana pendidikan (Guru) di MI. Hakekat dakwah setidaknya ada tiga hal
yang harus dilakukan yaitu, mengajak untuk melakukan kebaikan (amar ma’ruf),
mengingatkan agar tidak melakukan perbuatan buruk (nahi mungkar) dan memberikan
informasi yang dapat memahamkan umat terhadap nilai nilai atau ajaran Islam
(mauidhoh hasanah dan uswah hasanah). Misi keagamaan ini juga menekankan
pentingnya membentuk sikap kepribadian atau ahlaq dan moralitas peserta didik
dalam menjalankan kehidupan sosialnya, sehingga dapat menjadi manusia yang sempurna
(insan kamil) dunia akherat. Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah
sementara, kehidupan yang abadi di akherat. Konsekuensinya, setiap umat Islam
harus memiliki kesadaran bahwa kehidupan dunia merupakan sarana atau perantara
untuk mencapai kesuksesan kehidupan akherat.
Kedua,Misi keilmuan atau akademik
yaitu selain memiliki tugas dakwah Islamiyah, pelaksana pendidikan di MI juga
memiliki tugas memberikan wawasan keilmuan (kognitif) dalam bidang kehidupan
sosial. Artinya pembelajaran di MI selain membawa misi agama juga memiliki misi
pengetahuan dalam artian melahirkan peserta didik menjadi cerdas, kreatif dan
berpengetahuan yang dapat dijadikan landasan atau modal untuk melanjutkan ke
jenjang selanjutnya yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTS). Pembelajaran di MI juga
harus memberikan bekal agar peserta didik bersedia mengembangkan semua potensi
yang ada di dalam dirinya. Seperti potensi membaca, menulis, berfikir,
merenung. Potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik harus dikembangkan
secara optimal agar di jenjang pendidikan selanjutnya mampu menjadi kemampuan
pengetahuan dan ketrampilan hidup secara optimal.
Kedua misi besar MI, akan mudah
diperoleh jika dilakukan dengan proses doktrin, karena dengan doktrin manusia
akan memiliki kesiapan dan kematangan serta keyakinan secara optimal dalam
menjalani proses kehidupan.
Prinsip dan Langkah Langkah
Pembelajaran Doktriner[27]
Secara umum prinsip diartikan
sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan. Prinsip juga dimaksudkan hal hal yang
harus dipertahankan dalam sebuah aktivitas. Oleh sebab itu prinsip pembelajaran
doktriner harus ada dan tidak boleh ditinggalkan oleh Guru pada saat
melaksanakan proses pembelajaran. Model Pembelajaran doktriner harus
memperhatikan prinsip prinsip yang tidak boleh dihilangkan. Sekurang kurangnya
ada 6 (enam) prinsip pembelajaran doktriner adalah sebagai berikut :
Tema atau topik yang dipilih
harus benar benar mampu mendekatkan diri kiepada Allah SWT, bukan malah
sebaliknya menjauhkan diri peserta didik dari Allah SWT.
Tema atau topik harus benar benar
bermakna bagi peserta didik. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran doktriner
benar benar bermanfaat untuk mendekatkan diri peserta didik kepada Allah Swt.
Tema atau topik harus benar benar
disesuaikan dengan tingkat perkembangan atau pemahaman peserta didik. Artinya
sesuai dengan tingkat kelas atau kondisi psikologis peserta didik.
Tema atau topik yang dipilih
harus benar benar mendukung atau sesuai dengan kurikulum yang dipelajari.
Artinya sesuai dengan silabus yang sedang dilaksanakan.
Tema atau topik yang dipilih
harus benar benar sesuai dengan sarana yang ada. Artinya benar benar dapat
dipastikan ada sarana atau alat yang mendukung pelaksanan pembelajaran
doktriner.
Tema atau topik dipastikan bisa
menggugah atau menyentuh psikologis atau emosi serta perasan peserta didik.
Keenam prinsip harus dijadikan
bahan untuk melaksanakan langkah langkah pembelajaran doktriner. Langkah
langkah atau tahapan yang dilaksanakan oleh Guru dalam pembelajaran doktriner
tidak boleh terlepas dari keenam prinsip tersebut. Berdasarkan keenam prinsip
tersebut, maka dapat dilakukan lengkah langkah tehnis pembelajaran doktriner
sebagai berikut
Pertama, Merumuskan tujuan.
Setiap Guru harus terlebih dahulu merumuskan tujuan yang akan dicapai. Guru
harus juga memberikan penjelaskan kepada siswa agar para siswa mengetahui arah
dan tujuan yang ingin dicapai.
Kedua, Memilih topik yang tepat
sesuai dengan materi dan kondisi psikologis peserta didik. Pembelajaran doktrin
harus benar benar sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik, sesuai
dengan materi, dan sesuai dengan dinamika masyarakat.
Ketiga, Menyusun atau
merencanakan skenario cerita yang mampu meyakinkan peserta didik baik keyakinan
akademik maupun keyakinan keagamaan. Esensi pembelajaran doktriner adalah
menanamkan keyakinan secara optimal atau sempurna.
Keempat, Menyampaikan cerita yang
mampu meyakinkan para peserta didik sesuai dengan tujuan yang ditentukan.
Kelima, Melibatkan emosi,
perasaan atau suasana psikologis peserta didik agar benar benar bisa menerima
doktrin sehingga terwujud karakter sikap dan kepribadian sesuai tujuan yang
ditentukan.
Keenam, Menyiapkan sarana atau
media yang mendukung terlaksananya pembelajaran doktriner. Media atau sarana
bisa berbentuk buatan maupun sarana alamiah seperti lingkungan yang ada
disekitar kehidupan peserta didik.
Ketujuh, Melakukan evaluasi
langkah langkah yang telah dilakukan untuk menemukan kekurangan dan kelebihan
dari apa yang telah dilakukan.
Pembelajaran doktriner ini
didasarkan asumsi bahwa agama Islam memiliki visi, misi dan fungsi sebagai doktrin di samping
memiliki visi, misi dan fungsi lainnya. Agama Islam harus mampu meyakinkan para
pemeluknya untuk yakin dan percaya bahwa agama Islam akan menjadikan pemeluknya
hidup bahagia, sejahtera, rukun, damai tanpa harus saling mengkhianati. Doktrin
menyangkut keyakinan, hati dan perasaan. Keyakinan yang kuat akan mampu
menumbuhkan motivasi yang tinggi dalam melakukan etos kerja dalam kehidupan
sosial.
Beragama yang kuat harus
didasarkan atas keyakinan kepada lima hal yang dikemas dalam rukun Islam dan
juga keyakinan kepada enam hal yang dikemas dalam rukun iman. Lima hal yang
harus diyakini yaitu keyakinan bahwa Nabi Muhamamd SAW utusan Allah
(bersyahadah), keyakinan bahwa berserah diri kepada Allah SWT akan mampu
menjadikan manusia selamat dari segala macam fenomena negatif (sholat),
keyakinan bahwa menahan nafsu akan mampu mewujudkan kesempurnaan ahlaq dan
perilaku manusia yang sempurna (puasa ramadhan), keyakinan bahwa saling
membantu sesama khususnya bagi yang kekurangan akan melahirkan tatanan sistem
sosial yang kuat (zakat fitrah), dan memiliki keyakinan kemampuan
mengimplementasikan semua nilai nilai agama kedalam kehidupan sosial akan
menjadikan manusia hidup bahagia dan sejahtera di dunia akherat (haji).
Enam hal yang haru diyakini
adalah keyakinan bahwa Allah memiliki kekuatan dan kekuasaan diatas segala
galanya manusai (iman kepada Allah SWT), keyakinan bahwa Mahluk Allah bernama
malaikat memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan mengawasi dan
mencatat semua amal baik beserta konsekuensi yang dialami (iman kepada
Malaikat), keyakinan bahwa kitab Al
Qur’an memuat pesan yang sempurna bagi kehidupan manusia (Iman kepada kitab
Allah swt), keyakinan bahwa Muhamamd adalah utusan Allah yang memberikan ajaran
kepada semua manusia agar patuh dan taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya
(iman kepada Rasulullah Saw), keyakinan bahwa setiap manusia akan menjalani
kehidupan lain setelah menjalani kehidupan di dunia (iman kepada hari akhir),
serta keyakinan bahwa usaha (ihtiyar) manusia memiliki keterbatasan. Hanya
Allah SWT yang memiliki kewenangan untuk menentukan nasib manusia sesuai kadar
yang diusahakan (iman kepada qadha dan qadar).
Referensi :
[1] M. Saekan Muchith (2011:
71-72), dalam Desertasi berjudul Model Pembinaan Pengawas Sekolah (tidak
diterbitkan), Model Andre Sikula lebih menekankan pentingnya kesesuaian antara
elemen atau langkah nomor satu dengan langkah selanjutnya. Oleh sebab itu
pembinaan model Andre Sikula menuntut konsistensi antara elemen satu dengan
lainnya.
[2] M. Saekan Muchith (2011:
74-76), dalam Desertasi Berjudul Model Pembinaan Pengawas Sekolah (tidak
diterbitkan). Model ini menekankan aspek pentingnya situasi yang ada di luar
lembaga. Artinya model ini harus benar benar mempertimbangkan dinamika yang ada
diluar dirinya baik dinamika ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan
kebudayaan. Model ini dapat dikatakan salah satu model yang selalu
mengantisipasi berbagai dinamika dan problem yang berkembang sehingga materi
dan hasil pembinaan akan selalu relevan dengan situasi dan kondisi masyarakat .
[3] M. Saekan Muchith (2011:
78-79), dalam Desertasi berjudul Model Pembinaan Pengawas Sekolah (tidak
diterbitkan). Model ini menekankan dua aspek internal dan eksternal. Artinya
pembinaan akan efektif jika apa yang dimiliki disesuaikan dengan perkembangan faktor
yang ada di luar dirinya. Model ini hampir sama dengan model sosio-ekonomi
Battele. Model Battela hanya menekankan aspek eksternal, sedangkan model R.
Wayne Monde menekankan dua aspek secara bersama sama.
[4] Model pembelajaran harus
benar benar mendukung tercapainya rumusan tujuan pembelajaran yang sudah
ditentukan oleh Guru. Jika rumusan pembelajaran bertujuan untuk mengoptimalkan
kecerdasan /ketrampilan intelektual (kognitif) maka model yang dilakukan harus
benar benar dipastikan akan mamu mengoptimalkan kognitif siswa.
[5] Model pembelajaran harus
benar benar memiliki landasan teoritik yang jelas dan juga benar benar sesuai
dengan kebutuhan yang dimiliki oleh siswa.
[6] Model pembelajaran
dimaksudkan benar benar untuk membantu menyelesaaikan problem pembelajaran
siswa. Artinya model ini benar benar dapat memudahkan atau menjawab kesulitan
yang dialami oleh siswa.
[7] Model pembelajaran sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Guru
dan peserta didik serta ada sarana yang dapat mendukung terlaksananya model
tersebut.
[8] Model pembelajaran benar
benaar mendapat dukungan manajerial dari pemimpin lembaga.
[9] Pendekatan filosofis
didasarkan pengertian filsafat yang berasal dari kata philo memiliki makna
cinta kebenaran ilmu dan kebijaksanaan. Artinya kebenaran itu akan tercapai
jika dikaitkan dengan sebab sebab dan akibat yang melingkupi kebenaran
tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karya Poerwodarminto, dijelaskan
bahwa pendekatan filosifis adalah upaya untuk mencari atau menemukan kebenaran
dengan cara menelusuri sebab akibat, asas asas, dan hukum terhadap semua
fenomena yang ada di sekitar kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan asbabun
nuzul masing masing ayat dan asbabul wurudl dari hadis, yang mengharuskan
menelusuri setting sosial turunnya ayat dan hadis, sehingga akan mengetahui dan
menemukan makna yang tepat dalam kehidupan sosial.
[10] Agama Islam adalah agama
yang memberikan peran sangat besar kepada manusia untuk menggunakan akal
pikirannya. Tidak sedikit ayat al qur’an yang memerintahkan manusia menggunakan
akal pikirannya. Para ahli tafsir mengatakan sebanyak 49 kali dalam alqur’an
yang menunjuk tentang perkataan tentang akal seperti ta’qiluun, ya’qiluun,
tadabbaruun, tafakkaruun, tadzakkaruun dan juga ulul albab. Perkataan tersebut
menunjukkan bahwa akal pikiran (logika) memiliki peran penting dalam memahami
agama Islam.
[11] Kompetensi diartikan
seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang dijadikan landasan untuk melakukan
tugas tertentu. Kata seperangkat menunjuk kepada makna banyak atau berbagai
macam pengetahuan dan berbagai macam ketrampilan. Artinya guru dikatakan
memiliki kompetensi jika memiliki berbagai macam pengetahuan dan berbagai macam
ketrampilan yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Guru tidak cukup hanya memiliki satu
pengetahuan dan satu ketrampilan, karena untuk mencapai keberhasilan
pembelajaran, Guru harus memiliki wawasan keilmuan dan penguasaan tehnik
tentang pembelajaran. Dengan kata lain guru harus pintar, cerdas, berwawasan
luas dan wawasan lintas sektor.
[12] Indikator Pendekatan PPSI
dapat dilihat dari adanya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), oleh sebab
itu setiap akan melakukan proses pembelajaran Guru dituntut harus menyusun RPP
sebagai bukti kalau Guru memiliki penguasaan penuh secara sistematis terhadap
materi yang akan di sampaikan dalam proses pembelajaran. RPP menunjukkan adanya
kesesuaian antara elemen satu dengan lainnya seperti tujuan pembelajaran atau standar
kompetensi harus sesuai dnegan kompetensi dasar yang diikuti dengan materi,
metode dan sarana serta alat evaluasi yang dilakukan oleh Guru.
[13] Baca Elaine B. Johnson (2008: 17-23), Contextual
Teaching & Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikan dan
Bermakna. Diterbitkan oleh MLC Bandung Jawa Barat diterjemahkan Ibnu Setiawan
dan Pengantar ditulis oleh A. Chaedar
Alwasilah. Elaine B Jhonson adalah seorang konsultan pendidik dan pelaku bisnis
dan dikenal sebagai ilmuwan atau pakar dalam bidang pengajaran yang sesuai
dengan cara kerja otak. Pekerjaan lainnya sebagai konsultan bisnis di Amerika
Serikat dan Eropha. Mendapat penghargaan
dari Universitas Chicago atas metode pengajaran yang dinyatakan luar
biasa. Keberhasilan pendekatan CTL
diikuti dengan tujun langkah strategis yaitu (1) harus berbasis problem atau
permasalahan (2) Menggunakan konteks makna yang beragam (3) memperhatikan
kebhinekaan peserta didik (4) memberdayakan peserta didik untuk belajar mandiri
atau belajar sendiri. (5) harus mengedepankan kolaboratif (6) menggunakan
penilaian autentik (7) mengejar atau berusaha mencapai standar yang lebih
tinggi.
[14] Baca lebih lanjut Ahmad
Rohani HM (2004: 6-25), Pengelolaan Pengajaran (edisi revisi), Rineka Cipta,
Jakarta. Prinsip dapat diartiken sesuatu pengetahuan dan keyakinan yang harus
ada. Artinya dalam melaksanakan metode pembelajaran, Guru harus memiliki
beberapa prinsip tersebut agar metode pembelajaran benar benar berjalan secara
efektif dan efisien. Metode dikatakan
efektif jika dengan metode yang dipergunakan peserta didik mampu mendapat atau
memperoleh pengetahuan baru. Metode dikatakan efisien jika metode yang
dipergunakan memberikan semangat atau motivasi besar bagi peserta didik. Dengan
metode tersebut, peserta didik benar benar merasa enjoy bukan tersiksa atau
tertindas secara psikologis.
[15] Hal ini sesuai dengan firman
Allah Swt, “ Serulah manusia kepada
jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang orang yang
mendapat petunjuk “ (QS. An Nahl : 125).
[16] Metode tranformatif
didasarkan atas realitas umat Islam yang tidak sesuai dengan idealisme ajaran
Islam. Masih banyak mayoritas umat Islam yang berfikir atau memahami agama
secara tekstualis atau normaatif sehingga mudah melahirkan sikap dan perilaku
saling menyalahkan, saling mengkafirkan sesama muslim. Cara fikir tekstualis
berimplikasi dengan sikap yang rendah toleransi karena memposiskian agama lain
sebagai musuh. Mayoritas umat Islam juga masih terjebak kepada koleksi teori
atau hafalan teks teks agama (al qur’an dan Hadis) yang tidak diimbangi secara optimal dengan kualitas
perilaku (aksi). Sehingga banyak oknum umat Islam yang pandai berbicara, pandai
memberi nasehat tetapi perilakunya tidak sesuai dengan apa yang dinasehatkan.
Mayoritas, kualitas umat Islam masih
sebatas tingkat individual, belum sampai kepada kualitas sosial (kolektivitas).
Masih banyak oknum umat Islam yang
secara pribadi sangat taat kepada perintah Allah SWT, seperti rajin sholat lima
waktu, rajin puasa sunah senin kamis, rajin sholat malam, tetapi pada saat diberi
amanah sebagai pemimpin atau mengatur organisasi /lembaga perilakunya
seringkali menyimpang dari norma sosial dan agama. Fenomena masyarakat seperti itu perlu
dilakukan perubahan dari metode pembelajaran transformatif dengan harapan mampu
merubah atau menggeser cara fikir dan perilaku peserta didik dalam menjalani kehidupan sosialnya.
[17] Baca lebih lanjut Saefudin
(2017 : 4), dalam buku Belajar dan Pembelajaran, diterbitkan oleh Group
Penerbit Budi Utama, Yogyakarta.
[18] Baca lebih lanjut Baharuddin
dan Esa Nur Wahyuni (2007:13), dalam buku Teori Belajar dan Pembelajaran,
diterbitkan Ar Ruzz Media Group, Yogyakarta.
[19] Kognitif adalah kecerdasan
atau ketrampilan intelektual yang di dalamnya berisi tentang pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Artinya seseorang
dikatakan memiliki kognitif yang baik jika keenam potensi tersebut mampu
ditumbuhkembangkan secara optimal.
[20] Affektif adalah kecerdasan
atau ketrampilan sikap kepribadian yang di dalamnya berisi tentang kemampuan
untuk menerima, merespon, mengorganisasikan, sikap dan sistem nilai. Artinya
affektif ini kecerdasan yang berkaitandengan rasa atau kepribadian manusia.
Semakin cerdas affektifnya maka semakin baik sikap kepribadiannya.
[21] Psikomotorik adalah
kecerdasan atau ketrampilan yang berkaitan dengan otot/fisik/mekanik yang di
dalamnya terdapat beberapa kemampuan seperti, seet (kesiapan), Over respons (
kemampuan mengenal), mekanis
(mengoperasionalkan), adaptasi (kemampuan menyesuaikan dengan lingkungan
/situasi dan kondisi) dan origination (gerakan yang mengandung unsur seni atau
keindahan). Seseorang yang memiliki
kemampuan origination ini dapat dikatakan profesional. Seperti pemain sepak
bola yang mampu menendang bola melengkung, pemain bola voli yang melakukan
pukulan smash yang bervariasi sehingga bisa mengkecoh lawan mainnya,
petinju yang mampu memukul lawan dengan
gerakan yang indah sehingga menarik untuk ditonton. Qori (pembaca alqur’an)
dilantunkan dengan lagu yang indah tanpa mengurangi ketepatan tajwidnya. Pendidikan atau materi agama sebenarnya tidak
banyak yang mengandung aspek psikomotorik,
karena pendidikan agama tidak
mementingkan unsur fisik/mekanik. Pendidikan agama lebih banyak menekankan pada
aspek sikap kepribadian (affektif). Oleh sebab itu Pendidikan Agama Islam (PAI)
lebih menekankan ranah affektif dan kognitif.
Ranah psikomotorik dalam PAI sangat kecil. Misalnya, materi tentang sholat
sebenarnya menekankan bagaimana peserta didik mampu memahami nilai nilai sholat
untuk diaplikasikan kedalam kehidupan sosialnya. Materi puasa juga menekankan
bagaimana peserta didik mampu mengambil hikmah ibadah puasa kedalam kehidupan
sosialnya, seperti mengaplikasikan nilai nilai kejujuran, kedisiplinan yang ada
di dalam ibadah puasa ke dalam kehidupan sosialnya. Aspek aspek ini bersifat
affektif dan kognitif bukan psikomotorik.
[22]Baca Undang Undang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20 tahun 2003, Bagian ke dua, pasal 17 ayat 1
dan 2.
[23]Baca M. Dalyono (1997) dalam
buku Psikologi Pendidikan, diterbitkan oleh Rineka Cipta, Jakarta. Kesiapan bagi peserta didik di MI akan
menentukan keberhasilan pembelajarn jenjang berikutnya. menurut penulis
kesiapan setidaknya menyangkut dalam beberapa hal Pertama, kesiapan akademik,
yaitu peserta didik di MI harus memiliki kesiapan untuk memahami materi di
jenjang selanjutnya. Kedua, kesiapan mental, yaitu peserta didik di MI harus
benar bnenar memiliki pilihan atau motivasi besar untuk melanjutkan sekolah
kejenjang berikutnya. Ketiga, kesiapan ideologi yaitu peserta didik MI harus
benar benar memiliki kematangan dalam hal keyakinan agama yaitu agama Islam.
[24] Athur S Reber & Emily S
Reber (2010: 282), Kamus Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Di dalam kamus ini, doktrin disamakan dengan
dogma yang memiliki makna sesuatu yang diketahui, diyakini secara kuat tanpa
harus diikuti dengan data dukung secara empirik (pembuktian).
[25]Lebih lanjut baca Nur Sayyid
Santoso Kristeva dalam Buku “Sejarah Ideologi Dunia”: Kapitalis, Sosialis,
Komunis, Fasis, Anarkhis, Marxisme dan Konservatif, penerbit Lentera Kreasindo,
Yogyakarta, hal : 5-6. Bicara ideologi
juga bicara keyakinan yang kuat dan mendalam. Esensi pembelajaran doktriner
terletak pada proses menanamkan keyakinan yang kuat dan mendalam kepada peserta
didik agar benar benar memiliki keyakinan kuat dan mendalam tentang agama Islam
yang dimiliki oleh peserta didik sepanjang kehidupannya.
[26] Berdasarkan cerita yang diterima penulis dari
nenek saat penulis masih kecil, pernah diceritakan kepada penulis tentang bagaimana orang orang komunis
melakukan indoktrinasi kepada para peserta didik di jenjang pendidiian dasar
(SD& SMP). Setiap hari sebelum pelajaran dimulai, semua peserta didik
diajak untuk berdoa di halaman sekolah. Para Guru yang semuanya berideologi
komunis mengajak berdoa kepada peserta didik untuk meminta sesuatu kepada
Tuhan. Ayo anak anak, kita minta roti kepada Tuhan, pejamkan matamu, terus
teriakan dengan kata kata “Ya Tuhan ! saya minta roti, ayo diulang tiga kali.
Setelah peserta didik meminta roti
kepada Tuhan, terus guru berkata silahkan buka mata anda. Bagaimana?, ada
roti?, peserta didik serentak mengatakan tidak!!. Guru menyahuti, kalau begitu
ayo kita berdoa kepada bapak dan ibu guru. Ayo pejamkan mata anda, terus
berkata: Ya Bu Guru saya minta roti. Pada saat peserta didik mengatakan minta
roti, secara cepat para guru menempatkan roti di tangan semua peserta didik.
Setelah selesai memberi roti, guru berkata, buka mata anda, bagaimana ada
roti?, Serentak peserta didik menjawab : Ada!!. mendapat jawaban tersebut, guru
menyimpulkan berarti Tuhan tidak ada, yang ada adalah bapak dan ibu Guru. Anak
anak menjawab iyaa. Inilah bentuk contoh doktrin para komunis untuk menjauhkan
diri dari Tuhan. Doktrin di MI dilakukan
sebaliknya dengan para komunis yaitu mendekatkan diri kepada Allah swt.
[27] Prinsip dan langkah langkah
dalam pembelajaran bersifat subsyektif dan situasional, Artinya Guru sebagai
profesi memiliki kewenangan dan kebebasan untuk mengembangkan atau
mengelaborasikan tentang prinsip dan langkah pembelajaran. Hal ini didasarkan
asumsi bahwa pembelajaran adalah proses merespon semua dinamika ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan lingkungan sekitar. Guru harus
mampu menyesuaikan semua prinsip dan langkah pembelajaran yang relevan dengan
situasi dan kondisi peserta didik agar pembelajaran benar benar efektif dan
efisien. Pembelajaran dikatakan efektif jika mampu menambah informasi dan
pengetahuan baru bagi peserta didik, sedangkan pembelajaran dikatakan efisien
jika dilakukan dengan penuh inspiratif dan menyenangkan bagi pes erta didik.
Sumber : https://saekankudus.com/?p=1930













0 komentar:
Posting Komentar